Halal Bihalal HIKAM Karesidenan Kediri Bersama Kyai Idris Djamal dan Mbah Bolong, Teguhkan Semangat Mengaji, Dakwah, dan Kepedulian Sosial Alumni

KEDIRI, 5 APRIL 2026 – Suasana hangat dan khidmat mewarnai pelaksanaan Halal Bihalal bersama Pengasuh yang diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Alumni Al-Muhibbin (HIKAM) Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang wilayah Karesidenan Kediri, Minggu (5/4) pagi. 

Kegiatan ini berlangsung di Aula Yayasan Al Asyari, Jl. Stasiun No.4, Balowerti, Kota Kediri, dan diikuti oleh alumni dari Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Trenggalek.

Sejak pagi hari, para alumni, santri, dan masyarakat telah memadati aula kegiatan. Raut wajah penuh rindu dan kebahagiaan tampak dari para peserta yang hadir, menjadikan Halal Bihalal ini tidak sekadar agenda rutin, tetapi momentum mempererat ukhuwah dan menyambung sanad keilmuan dengan para pengasuh.

Acara diawali dengan sambutan tuan rumah sekaligus mewakili panitia dan pengurus HIKAM Kediri Raya yang disampaikan oleh Prof. Dr. Moch. Muwafiqillah, M.Fil.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini serta menegaskan pentingnya menjaga ikatan alumni dalam bingkai nilai-nilai pesantren.

“Halal Bihalal ini bukan hanya ruang silaturahim, tetapi juga momentum untuk merawat nilai, menjaga sanad, dan menguatkan komitmen kita sebagai alumni untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga berharap agar HIKAM di wilayah Karesidenan Kediri terus aktif menjadi wadah kolaborasi dan pengabdian alumni di tengah masyarakat.

Selanjutnya, sambutan sekaligus pengarahan disampaikan oleh Ketua Umum HIKAM Pusat, KH. Nur Hadi atau yang akrab disapa Mbah Bolong. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa alumni Al-Muhibbin harus memiliki lima sikap utama sebagai landasan dalam menjalani peran di tengah masyarakat.

“HIKAM harus memiliki lima sikap: Munadzdzim, Murobbi, Mujaddid, Mujahid, dan Mu’tsir,” tegasnya.

Beliau kemudian menjelaskan secara rinci makna dari kelima sikap tersebut. Pertama, alumni harus memiliki sikap munadzdzim, yakni kemampuan menata diri, organisasi, dan kehidupan dengan baik. “Alumni harus bisa menata. Menata diri, menata keluarga, dan menata peran sosialnya,” ujarnya.

Kedua, alumni harus menjadi murobbi, yakni sosok pendidik sekaligus pemersatu. Ia mengingatkan agar alumni tidak justru menjadi sumber perpecahan. “Jangan sampai alumni pesantren malah memecah belah. Kita harus menjadi perekat, bukan pemisah,” pesannya.

Ketiga, alumni harus menjadi mujaddid, yaitu pribadi yang inovatif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. “Zaman terus berubah. Alumni harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren,” imbuhnya.

Keempat, alumni harus memiliki semangat mujahid, yakni daya juang dan ketangguhan dalam berdakwah dan menghadapi tantangan kehidupan. “Dakwah itu butuh perjuangan. Harus kuat, harus tangguh,” tegasnya.

Kelima, alumni harus memiliki sikap mu’tsir, yaitu sikap mendahulukan orang lain, rela berkorban, dan mau mengalah demi kemaslahatan bersama. “Kalau ingin kuat, kita harus belajar mendahulukan kepentingan orang lain,” pungkasnya.

Memasuki acara inti, para hadirin mendapatkan Mauidzoh Hasanah atau taujihat pengasuh yang disampaikan oleh KH. Moh. Idris Djamaluddin—yang akrab disapa Kyai Idris Djamal. Dengan gaya penyampaian yang sederhana namun mendalam, beliau mengangkat tema tentang tanda-tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba.

“Pertanyaannya, apakah kita ini dikehendaki baik oleh Allah, atau justru sebaliknya?” buka beliau, mengajak hadirin untuk merenung.

Mengutip kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani, beliau menjelaskan bahwa terdapat tiga tanda seseorang dikehendaki baik oleh Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Syekh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asqalani: “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah akan menjadikannya faham terhadap agama, menjadikannya zuhud terhadap dunia, dan memperlihatkan aib-aib dirinya.”

Dari penjelasan tersebut, Kyai Idris Djamal menekankan pentingnya menjaga semangat belajar sepanjang hayat. “Belajar itu tidak berhenti. Pendidikan formal boleh selesai, tapi mencari ilmu harus terus sampai kita meninggal dunia,” dawuhnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang wafat dalam keadaan mencari ilmu memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah. “Siapa yang meninggal dalam keadaan mencari ilmu, maka ia tercatat sebagai penduduk surga,” ujarnya.

Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup aspek sosial dan kehidupan sehari-hari. “Kalau kita lihat Al-Qur’an, pembahasan tentang shalat, zakat, puasa itu singkat. Tapi saat membahas muamalah seperti utang-piutang, dijelaskan panjang lebar. Artinya, Islam itu juga sangat memperhatikan hubungan sosial,” jelasnya.

Abah Idris juga mengingatkan bahwa bekerja dan mencari nafkah merupakan bagian dari ibadah. “Ada riwayat, salah satu tanda Allah mencintai hambanya adalah ketika ia bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah dan ilmu. Maka bekerja dan belajar itu bagian dari menjalankan agama,” tuturnya.

Beliau kemudian menegaskan bahwa tugas setiap muslim adalah berikhtiar secara maksimal dalam mencari rezeki yang halal, sekaligus terus meningkatkan kualitas diri melalui ilmu. “Tugas kita adalah berusaha, bekerja, dan mencari rizki yang halal. Itu juga bagian dari ibadah,” pungkas Abah Idris.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Saiful Hidayat selaku Dewan Pembina HIKAM Pusat, yang memohon keberkahan, keselamatan, serta kemanfaatan ilmu bagi seluruh hadirin.

Acara ini juga dihadiri oleh masyarakat umum sekitar Yayasan Al Asyari yang tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan. Dari unsur internal, para pengurus HIKAM se-Karesidenan Kediri hadir secara luas, demikian pula para santri aktif Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang berasal dari wilayah Kediri Raya turut memeriahkan kegiatan ini.

Sebagai tambahan informasi, Yayasan Al Asyari Kota Kediri yang menjadi lokasi kegiatan ini merupakan lembaga pendidikan dan keagamaan yang relatif baru namun berkembang pesat. Yayasan ini didirikan pada tahun 2022 dan disahkan melalui akta notaris Tisnawati, S.H. Nomor 16 tanggal 27 Oktober 2022. Pendirian yayasan ini bertujuan untuk berkontribusi dalam bidang sosial dan keagamaan, sekaligus mendukung upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam implementasinya, Yayasan Al Asyari telah mengembangkan berbagai unit pendidikan yang terintegrasi, meliputi KB Tasya (Tahfidz Al Asyari), TK Tasya, SD Tasya, Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al Asyari, Majelis Taklim Al Asyari, hingga Ma’had atau Pondok Pesantren Al Asyari. Seluruh unit ini diarahkan untuk membentuk generasi muslim yang Qur’ani, terampil, berwawasan luas, serta berakhlakul karimah.

Yayasan ini dipimpin oleh H. Herry Susanto, M.E. dan Dr. H. Sofuan Jauhari, Lc., M.H.I, yang terus mendorong pengembangan lembaga sebagai pusat pendidikan Islam yang adaptif sekaligus berakar kuat pada nilai-nilai keislaman.

Melalui Halal Bihalal ini, HIKAM Karesidenan Kediri tidak hanya mempererat silaturahim, tetapi juga meneguhkan kembali peran alumni sebagai penjaga nilai, penggerak dakwah, serta pilar kemaslahatan umat di tengah dinamika zaman.