JOMBANG, 4 APRIL 2026 – Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Idaroh Syu’biyah Jombang atau JATMAN Jombang menggelar kegiatan Silaturahim dan Sowan Masyayikh Thariqah dalam rangka Halal bi Halal Idul Fitri 1447 H dengan mengunjungi para masyayikh di pondok pesantren di Jombang pada Jumat (3/4).
Kegiatan ini menjadi ikhtiar mempererat hubungan spiritual, memperkuat sanad keilmuan, serta mengokohkan peran thariqah dalam kehidupan masyarakat.
Rois Syu’biyah JATMAN Jombang, Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.HI menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar kunjungan silaturahim, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai thariqah yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.
“Kegiatan sowan ini adalah bentuk ta’dzim kepada para masyayikh sekaligus upaya menyambung sanad ruhaniyah. Kami ingin memastikan bahwa gerakan thariqah tetap relevan, membumi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Mudir JATMAN Jombang KH. M. Hamid Bisri, M.Si bahwa silaturahim ini juga menjadi ruang konsolidasi organisasi sekaligus penguatan arah gerakan JATMAN Jombang ke depan.
“Melalui sowan ini, kami mendapatkan banyak dawuh dan nasihat dari para masyayikh sebagai pedoman dalam menjalankan organisasi. Ini penting agar JATMAN tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga kokoh secara spiritual,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sowan ke ndalem KH. M. Idris Djamaluddin di Pondok Pesantren Tambakberas. Dalam dawuhnya, beliau mengajak seluruh pengurus dan pengamal thariqah agar mampu menghadirkan kemanfaatan nyata bagi masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa thariqah bukan hanya amalan bagi usia senja, tetapi justru perlu dimulai sejak usia muda, mengingat kematian adalah rahasia Ilahi yang tidak mengenal waktu.
Beliau juga menjelaskan bahwa seluruh ajaran thariqah pada hakikatnya merupakan bentuk mujahadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ber-thariqah di bawah bimbingan mursyid yang kamil diibaratkan seperti pasien yang mendapatkan resep tepat dari dokter ahli—sebuah terapi spiritual yang spesifik untuk membersihkan hati dan menata jiwa.
Perjalanan dilanjutkan ke Pondok Pesantren Rejoso dengan sowan kepada KH. Tamim Romli. Dalam nasihatnya, beliau mengajak generasi muda untuk mulai menapaki jalan thariqah sebagai bagian dari semangat perjuangan spiritual di masa depan. Ia menekankan bahwa ber-thariqah adalah bentuk nyata dari taubat dalam amal kebajikan yang tidak perlu menunggu usia senja.
Menurutnya, thariqah merupakan wasilah untuk menghadirkan kesejukan, kedamaian, dan harmoni dalam kehidupan masyarakat. Melalui bimbingan thariqah, seorang hamba akan lebih mudah menjaga istiqomah dalam menjalankan ibadah sehari-hari.
Masih di Rejoso, rombongan JATMAN Jombang juga bersilaturahim dengan KH. Kholil Dahlan. Dalam dawuhnya, beliau berharap JATMAN dapat menjadi wadah pemersatu berbagai aliran thariqah di Jombang, sehingga tercipta ukhuwah yang kuat di antara jamaah dan muhibbin thariqah.
Beliau menambahkan bahwa bergabung dengan thariqah merupakan sarana untuk menjaga rutinitas amalan yang mampu menyentuh relung hati dan menghadirkan ketenangan batin. Ia juga menegaskan bahwa peran pesantren dan thariqah memiliki ruang yang saling melengkapi—pesantren fokus pada pendidikan santri, sementara thariqah menjadi jalan pengabdian untuk mengayomi masyarakat luas.
Lebih lanjut, KH. Kholil Dahlan mendorong adanya pengembangan kantor fisik JATMAN Jombang sebagai pusat silaturahmi para mursyid se-Kabupaten Jombang. Ia juga menjelaskan bahwa sanad keilmuan di Pesantren Rejoso terbagi dalam dua jalur utama, yakni sanad Al-Qur’an melalui dirinya dan sanad wirid serta dzikir melalui KH. Tamim, pendiri Pondok Darul Ulum Rejoso.
Rangkaian sowan ditutup dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Tebuireng, bertemu dengan KH. Abdul Hakim Mahfudz. Dalam dawuhnya, beliau mengingatkan bahwa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok pengamal thariqah yang istiqomah, dengan amalan rutin seperti membaca Surat Al-Kahfi yang sarat dengan hikmah.
Beliau menegaskan bahwa thariqah memiliki misi besar dalam membangun ukhuwah sebagai fondasi kekuatan bangsa. Kerukunan antarumat, menurutnya, merupakan kunci utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
KH. Abdul Hakim Mahfudz juga mengisahkan keteladanan Mbah Hasyim dalam perjuangan kemerdekaan yang dilandasi ketulusan dan strategi. Perjuangan beliau dilakukan secara senyap namun berdampak besar, termasuk dalam merumuskan arah perjuangan bangsa.
Dalam konteks dakwah, Mbah Hasyim dikenal sebagai sosok strategis yang mampu memenangkan keadaan tanpa harus merendahkan pihak lain—sebuah prinsip luhur yang dikenal dengan “menang tanpa ngasorake”.
Melalui rangkaian silaturahim dan sowan ini, JATMAN Jombang tidak hanya memperkuat jaringan spiritual antar masyayikh dan jamaah, tetapi juga meneguhkan kembali peran thariqah sebagai pilar pembinaan akhlak, penjaga harmoni sosial, serta penguat nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika zaman.
