Menag Tekankan Harmoni Ibadah dan Kepedulian Lingkungan

JAKARTA – Menteri Agama (Menag) mendorong penguatan nilai-nilai ekoteologi selama bulan Ramadan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran keagamaan yang selaras dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ramadan dinilai sebagai momentum tepat untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Menag menegaskan bahwa ajaran agama pada dasarnya mengandung nilai-nilai pelestarian lingkungan. Melalui pendekatan ekoteologi, umat diajak memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral manusia sebagai khalifah di bumi. Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui perilaku sederhana, seperti menghemat air, mengurangi sampah, serta menjaga kebersihan lingkungan selama menjalankan ibadah Ramadan.

Menurut Menag, penguatan ekoteologi juga relevan dengan tantangan krisis lingkungan global yang semakin nyata, mulai dari perubahan iklim hingga kerusakan ekosistem. Oleh karena itu, ajaran agama diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi dalam membangun kesadaran kolektif untuk hidup lebih ramah lingkungan.

Menag juga mengajak para tokoh agama, pendakwah, dan pengelola rumah ibadah untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Melalui dakwah dan pendidikan keagamaan, nilai ekoteologi dapat ditanamkan secara berkelanjutan kepada masyarakat.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan kepedulian lingkungan, Menag berharap Ramadan tidak hanya menjadi sarana peningkatan spiritualitas individual, tetapi juga momentum membangun kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian alam demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.